Wednesday, March 9, 2016

Pengalaman pertama terbang bersama Batik Air

Saya sebagai agen penjualan milik Orang Asli Papua sudah lama menjual tiket kepada calon penumpang yang hendak terbang dari dan ke Tanah Papua, kebanyakan dari Bandar Udara Soekarno - Hatta Jakarta ke Bandar Udara Theys Eluay Sentani, Jayapura.

Sudah banyak kali juga saya mendapat protes dan sekaligus penegasan dari penumpang seperti ini, "Cari Batik Air saja, kalau tidak bisa tunda saja, saya tidak ikut pesawat lain!" Jadi kesan saya memang Batik Air ini sama dengan maskapai penerbangan asing seperti Cathay Pacific atau Swiss Air yang saya tahu, begitu Lux dan pelayanannya prima.

Saya tanyakan sebanyak dua penumpang, alasannya apa? Mereka berikan jawaban yang sama, "alasan pertama harganya murah, alasan kedua pelayanannya lebih manusiawi". Lalu saya mendalami lagi, apa artinya pelayanan manusiawi. Penjawab berdua memberikan jawaban yang sama, yaitu ada makanan dan minuman yang disajikan "gratis" di dalam pesawat, walaupun harga pesawatnya masih di bawah harga maskapai penerbangan lain yang ke Tanah Papua.

Pada pertengan Februari 2016, saya sendiri melakukan penerbangan pertama berasma Batik Air, dan ternyata ada benarnya, dan juga ada tidak benarnya juga. Benarnya karena memang ada makanan yang dibagikan, tidak harus dibeli seperit penerbangan murah lainnya. Tetapi ada salahnya karena dugaan saya Batik Air sama dengan Swiss Air meleset luarbiasa. Bagaimana tidak, layar di depan penumpang yang menunjukkan peta blank. Biasanya, kamera depan itu bisa dipakai untuk menonton film, berita-berita rekaman atau bisa juga melihat status penerbangan yang sedang terjadi. Dengan ini kita bisa tahu berapa lama kita sudah terbang dan berapa jauh lagi kita akan tiba. Itu tidak ada.

No comments:

Post a Comment