Friday, August 5, 2016

Jumlah Penerbangan Di Bandara Sentani 180-200 Per Hari

Sentani, Jubi – Sepanjang bulan Januari sampai Juli 2016 di bandar udara (bandara) Sentani sebanyak 180 – 200 kali take off (lepas landas) dan landing (pendaratan).
Kepala Bandara Sentani Agus Priyanto mengatakan jam operasi di bandara tersebut ada 11 jam dari 180 – 200 sehingga satu jam sebanyak 18-19 penerbangan.

“Kalau dikaitkan dengan kapasitas Bandara Sentani sendiri di koridor 85 yang bisa dimanfaatkan masih space 10-15 persen,” katanya kepada Jubi di Sentani, Jayapura, Selasa (2/8/2016).

Ia melanjutkan kepadatan penumpang terjadi pada pagi hari karena pagi ada round time atau golden time yang digunakan, baik airline maupun pesawat kecil atau pesawat perintis milik misionaris.
“Itu semua memanfaatkan kegiatan di pagi hari dikarenakan iklim di Papua ini tidak menentu,” katanya.

Menurut dia perubahan cuaca di Papua yang sangat tinggi menyebabkan penerbangan padat pada pagi hari. Namun demikian untuk penerbangan dengan jenis pesawat berbadan besar atau lebih dari 30 penumpang kesibukan di atas pukul 12 siang sebagiai round time.

“Kesibukan di atas jam 12 sudah normal tetapi di pagi hari dan siang hari itu sangat padat sekali,” katanya.

Disinggung soal jumlah penumpang, ia mengakui rata-rata penumpang 2.000 – 3.000 penumpang, tidak termasuk kargo.

Ia pun berjanji agar memberikan pelayanan terbaik.

“Awal keberadaan saya di sini saya mengkonsentrasikan di kegiatan keamanan, karena keamanan adalah salah satu permasalahan utama,” ujarnya.

Ia mengatakan seharusnya dibangun alternatif jalur taksi. Sementara saat ini jalur taksi hanya di bangian utara. Oleh sebab itu, diharapkan pembangunan jalur taksi di jalur selatan.
“Untuk program jangka panjang, saya mengharapkan adanya alternatif pembuatan landasan pacu baru ada beberapa potensi perencanaan dalam pembuatan landasan pacu baru bisa di sisi lahannya lanud Jayapura di sana ada 280 hektare. Kita bisa membuat untuk pembuatan landasan baru sehingga kita bisa memanfaatkan pesawat kecil dan pesawat besar,” katanya.

Selanjutnya, bandara Sentani, menurutnya akan dimanfaatkan untuk pesawat besar dan di landasan baru digunakan untuk pesawat kecil. Untuk alternatif lainnya dikembangkan bandara Keerom untuk pesawat kecil.

“Frekuensi penerbangan di Papua ini cukup padat sehingga kita bisa bagikan ke bandara yang sudah ada dan yang mau dibuat di Keerom,” katanya lagi. (*)

No comments:

Post a Comment